Penjual Minyak, Mencintai Rasulullah Begitu Sederhana

Semua sahabat Nabi SAW yang kita kenal adalah sosok-sosok agung. Setiap kali nama mereka disebut, sudah tentu kemuliaannya ikut dikenang orang. Semuanya sebanding dengan prestasi dan perjuangan mereka yang luar biasa. CInta Allah dan Cinta Rasul-Nya, itulah semangat mereka selama hidup. Namun ternyata tak perlu menjadi pahlawan yang hebat, ulama yang shalih, atau ilmuwan yang pandai untuk mencintai Allah dan Rasulullah. Seperti yang diperlihatkan oleh seorang penjual minyak wangi berikut ini.


Tak Bisa Melakukan Sesuatu


Di masa Rasulullah SAW hidup, ada seorang penjual minyak wangi yang sangat mencintai beliau. Mungkin rasa cintanya tidak lebih besar dari cinta para sahabat Nabi yang lain, namun ada hal unik yang menandai kecintaan sang Penjual Minyak kepada Rasul. Orang ini merasa tidak bisa melakukan suatu pekerjaanpun sebelum ia berjumpa dengan Rasulullah SAW, walaupun itu berarti hanya sekedar melihat beliau. Jika si Penjual Minyak melihat Rasulullah tengah dikerumuni orang banyak, ia akan berjinjit-jinjit dan memanjangkan leher agar bisa melihat beliau. Setelah itu baru puas dan senanglah hatinya.

Berdialog dengan Rasulullah


Suatu ketika kembali Rasulullah SAW dikerumuni banyak orang. Si Penjual Minyak mendekat, tetapi kali ini kerumunan begitu banyak sehingga ia tak bisa langsung melihat beliau SAW. Maka Penjual Minyak berusaha mendekat dan lebih dekat. Rupanya Rasulullah SAW juga sudah tahu kebiasaan orang ini. Akhirnya beliau mempersilahkan si Penjual Minyak mendekat.

"Mengapa engkau melakukan sesuatu yang sebelum bertemu aku
tak pernah engkau lakukan?” tanya Rasulullah.

Sambil menatap Rasulullah dengan mata bercahaya, si Penjual Minyak menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah yang mengutus Tuan dengan kebenaran, hatiku ini selalu teringat kepada Tuan. Aku bahkan tidak dapat melakukan sesuatu sampai aku melihat Tuan terlebih dahulu.”

Rasulullah tersenyum haru, kemudian beliau mendoakan orang tersebut. Sampai suatu ketika Rasulullah tidak lagi melihat di Penjual Minyak. Beliau pergi mengunjungi kios minyak milik orang itu namun para penjual di sana berkata, “Wahai Rasulullah, pemiliknya telah meninggal dunia. Bagi kami dia adalah orang yang jujur dan dapat dipercaya, hanya sayangnya dia mempunyai cacat. Ia suka menunda pembayaran.” Rasulullah bersabda, “Demi Allah, dia sangat mencintaiku. Sekalipun ia punyat cacat, pasti Allah akan mengampuninya".

Ketika seorang ulama besar bernama Ja’far Ash-Shadiq, ditanya tentang hak seorang muslim atas saudaranya, salah satu jawabannya adalah, “Dia tidak merelakan sesuatu untuk diberikan kepada saudaranya melainkan dengan sesuatu yang ia senangi. Ia juga harus membantu saudaranya dalam hal harta dan berzikir kepada Allah SWT”. Itulah wujud cinta seorang muslim kepada muslim lainnya.

Jangankan kepada sesama muslim, kepada sesama manusia yang bukan muslim pun kita harus saling mengasihi. Seperti yang dicontohkan Ali bin abi Thalib ketika beliau memberi sedekah dari kas negara kepada seorang nasrani yang jatuh miskin dan menjadi pengemis di hari tuanya.

0 komentar:

Posting Komentar